Oleh Rahmat Idris|
Sunset bersama Voltaire dan Tereliye|
Hari masih jam 10 pagi, ketika suara penanda surel masuk berbunyi di HP Tereliye. Ding! Sigap Tereliye membuka akun inbox miliknya. Secarik surat dari seseorang yang cukup dikenal di dunia persastraan dan filsafat dunia terlihat di barisan paling atas.
Dari: Francois Marie Arouet 'Voltaire'
Judul: Ngopi yok bang.
Isi surat: Ngopi yok sore ini di tempat biasa. Lagi butuh teman diskusi ini.
Bang Tereliye mereply singkat: Okeh.
Singkat cerita mereka berdua bertemu, berdiskusi seperti biasanya, ngalor ngidul beberapa saat, lalu tertawa lepas tanpa beban. Tiba-tiba saja Voltaire mengalihkan pembicaraan ke sesuatu yang sedang up to date:
Voltaire: Bang Tere Liye, kok bisa ya statusmu jadi trending topic di twitter? Keren sekali itu. Aku saja yang melalang buana di dunia persastraan dan drama sejak 300 tahun yang lalu tidak pernah sampai menjadi trending topic di twitter.
Tereliye: Biasa mas. Dunia maya itu. Tidak perlu diperbincangkan. Hanya merusak suasana diskusi kita sore ini.
Voltaire: Tapi reaksi yang muncul seperti sangat masiv. Bahkan sampai buku-bukumu diajak boikot bersama. Apakah memang tulisanmu itu sangat menghina dan menyakiti mereka?
Tereliye: Tidak ada yang tersakiti mas Voltaire. Kalau ada yang sensi, itu mah urusan mereka masing-masing. Dampak dari tulisan saya tidak pernah sampai membuat kerjaan orang terlantar. anak manusia menjadi yatim, seorang istri jadi janda, para suami dipenjara atau setidaknya membuat pemerintah berang dan memutuskan menaikkan harga BBM malam ini juga. Dibandingkan dengan tulisanmu ya mas, dulu ketika dimasukkan penjara. Tulisanku ndak ada apa-apanya.
Voltaire: Jadi apa juga penyebabnya mereka sampai menjadikanmu trending topic?
Tereliye: Gini mas, Sebenarnya yang dulu memasukkan kamu kepenjara dengan yang hari ini ribut soal statusku sama saja kok. Sama-sama dari golongan fanatis. Bedanya, yang memasukkan kamu kepenjara adalah aristocrat fanatic seperti Chevalier de Rohan, kalau aku adalah fanatic liberal dan komunis yang ngakunya sih fans kamu mas.
Voltaire: fans aku? Kok bisa?
Tereliye: Lah, abis mereka merasa paling pintar kalau kritik masalah agama. Tepuk tangan paling kuat kalau MUI di dijina atau diolok-olok. Seperti perkataanmu lah mas, organisasi berdasarkan keagamaan adalah penipuan. "Ecrasez l'infame", barang jelek dari masa lalu yang dari dulu kamu benci.
Voltaire: Ndak bisa seperti itu. Dulu, masaku dogma agama itu memang cara untuk melanggengkan kekuasaan para raja dan alasan untuk melegalkan kejumudan dalam berpikir. Sekarang kan tidak seperti itu lagi. Kekuasaan tidak tergantung pada pemuka agama dan saint di perlakukan secara adil di depan agama.
Tereliye: Lah, mau gimana lagi mas Voltaire. Kan tidak semua orang bisa diskusi dengan kamu seperti aku. Setidaknya aku tahu, walau kamu memburukkan nabi Muhammad dalam dramamu Le Fanatisme ou Mahomet le Prophete seolah nabiku sadis dan super villain, aku tahu target yang kamu bidik ya keuskupan roma. Walau kamu berusaha bermain cantik biar tidak kena pasal subversif.
Voltaire: Le Fanatisme ou Mahomet le Prophete kan setingan mas. Sejatinya aku menghargai agama Islam sebagai agama yang bijak, ketat, dan manusiawi. Di akhir-akhir masa kegemilanganku pun aku mengakui Nabi Muhammad merupakan orang yang berkuasa, yang menyampaikan dogma-dogmanya dengan keberanian. Namun, agamanya penuh maaf dan toleran.
Tereliye: mau setingan atau enggak, kalau mas Voltaire menghina nabi tetap dosa lho mas. Tapi gini aja, setidaknya aku dah ngingatin kamu biar ndak gitu lagi. Selanjutnya aku bersikap seperti perkataan kamu yang sering di kutip sama fans kamu, “Je hais vos idées, mais je me ferai tuer pour que vous ayez le droit de les exprimer.”(Artinya: Saya tidak setuju dengan apa yang Anda katakan, tapi saya akan membela sampai mati hak Anda untuk mengatakan itu)
Sayangnya, para fans kamu itu yang pada sering ngutip itu perkataan kamu itu pula yang hari ini paling keras menyerukan boikot kepada buku yang aku tulis. Persis seperti rivalmu dulu yang berkoar-koar agar drama dan tulisanmu diboikot. Dunia memang menyedihkan, di satu sisi ngakunya toleran, di sisi lain lebih arogan dan fundamental daripada yang mereka cap arogan.
Voltaire: Mungkin buku kamu pada nyakitin mereka bang. Nyindir mereka secara langsung?
Tereliye: Piye toh mas. Novel aku Cuma berkisah soal cara menjadi bahagia di dunia ini. Cara menjadi anak yang shalih/at. Bagaimana menilai orang bukan dari rupa. Bagaimana menjadi ayah yang baik, berusaha menemukan kebahagiaan hidup walau tinggal di kampong terpencil di gunung dan lembah. Satu dua bicara cinta yang tidak kesampaian. Lalu apa hubungannya itu sama tudingan mereka?”
Voltaire: ada adegan mesum-mesum di novelmu? Mungkin penyebab di boikot.
Tereliye: Boro2 mesum. Pacaran aja menurutku pekerjaan sia-sia. Mesum? Sorry, tulisan aku gak boleh ada content begituan.
Voltaire: Lalu alasan apa karyamu ikut-ikutan di boikot kalau isinya tidak ada kritikan atau seperti tulisanmu di status?
Tereliye: alasannya kebencian dan fanatisme mas. Sesuatu yang mengiringmu dahulu ke penjara dan hari ini berusaha menjatuhkanku dengan cara melakukan bully berjamah.
Sambil menyesap kopi tanpa sianida pesanannya, Voltaire manggut-mangut sejenak. Pikirannya menerawang sembari berpikir nakal, bagaimana seandainya bila dia membuat drama baru dengan judul : Le Fanatisme ou Tereliye. Apakah bakal booming seperti Le Fanatisme ou Mahomet le Prophete?
#MurniFiksi#GakUsahBaper
Tidak ada komentar:
Posting Komentar