Oleh Rusdi Mathari
REBUS.
Berita tentang Khofifah Indar Parawansa, Menteri Sosial yang berencana mengobati LGBT itu sebetulnya sudah agak lama. Sudah diberitakan sekitar dua pekan silam, tapi mendadak heboh belakangan setelah sebuah berita berjudul “Mensos Punya Solusi Rehabilitasi LGBT Dengan Direbus Air Panas” disebarkan di media sosial. Berita dengan judul provokatif yang ditulis oleh redaksikota.com, 28 Februari 2016 itu kemudian ramai diperdebatkan dan Khofiffah tentu saja dihujat. Dia dianggap bodoh. Moron. Dituding sadis. Jilbab yang dikenakannya pun diungkit-ungkit.
Problemnya: benarkah Khofiffah mengatakan seperti judul yang ditulis itu? Kalau membaca judul saja, berita semacam itu niscaya mudah menyulut orang awam untuk menganggap Khofiffah benar telah mengatakan atau mengusulkan LGBT direbus, lalu percaya memang begitulah faktanya. Tapi sebetulnya, tak perlu orang cerdas untuk mempercayai judul berita semacam itu tidak masuk akal diucapkan oleh seorang menteri dan seorang perempuan. Itu terbukti, sebab redaksikota kemudian meminta maaf dan menyebut wartawannya salah kutip.
Saya menyebut berita semacam itu sebagai dusta, dan dusta tidak selalu berarti kebohongan yang mentah-mentah atau fitnah yang telanjang. Orang pers sudah lama tahu, berbagai bentuk penyajian atau aneka tulisan yang bukan berita langsung tetapi mengandung informasi, dengan cara tertentu bisa menghidupkan kesan terhadap sesuatu dalam pikiran publik secara berbeda dari kenyataannya.
Itulah kebohongan: meletakkan yang ingin ditonjolkan di bagian pembuka atau sebagai penutup dengan ending model pengunci. Menekankan ke dalam pikiran pembaca bukan yang semestinya. Menyamarkan hal-hal tertentu dan menonjolkan hal lain secara tak adil. Mem-blow up sebuah detil kecil dengan maksud menutupi seluruh kesan yang lain. Dan Khofiffah telah menjadi korban dari kebohongan semacam itu. Korban yang kesekian dari pers yang kini selalu gaduh, dan telah jadi alat propaganda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar